Amir

Silahkan kunjungi http://amirdikdas.blogspot.co.id/ ...

Selengkapnya

MENGOPTIMALKAN PEMBELAJARAN IPA DENGAN MEDIA FOTO HANDPHONE UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR MATERI GERAK TUMBUHAN PADA SISWA KELAS VIII SMPN 2 PEMATANG KARAU

Abstrak:

Kata kunci:

Dalam pembelajaran IPA, materi tidak kontekstual, sebagian besar masih ada guru melaksanakan pembelajaran tradisional disamping berpusat pada guru juga menjelaskan foto yang ada dibuku tanpa memberikan foto secara nyata di lingkungan sekitar siswa. Keadaan tersebut potensial menimbulkan kejenuhan, menurunkan minat, motivasi dan makna mendalam terhadap apa yang dipelajari siswa. Tujuan Penelitian ini adalah untuk Meningkatkan Minat Belajar menggunakan Media Foto Handphone pada materi Gerak Tumbuhan Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pematang Karau. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan (action Research) yang terdiri dari 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian tindakan bahwa dengan media foto handphone pembelajaran pada materi gerak tumbuhan siswa kelas VIII SMPN 2 Pematang Karau menjadi lebih optimal, dan hasil belajar siswa lebih meningkat. Disamping peningkatan pada aspek kognitif, keceriaan, antusias, perhatian dan aktifitas serta meningkatkan minat belajar. Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Bagi guru yang ingin melakukan pembaharuan dalam proses pembelajaran IPA salah satunya menggunakan media foto sebagai respon semakin banyaknya siswa mempunyai handpone yang difasilitasi kamera. (2) Agar penerapan media foto mendapatkan hasil yang maksimal diharapkan guru memerlukan persiapan yang matang, dengan cara foto gerak tumbuhan di ambil sesuai apa yang ada di lingkungan siswa, meskipun penggunaan handphone di sekolah harus mendapatkan izin guru dan orang tua.

Foto handphone, Minat Belajar, Gerak Tumbuhan


1. PENDAHULUAN

Menurut Riyanto (2010) dalam Audina, dkk.(2017:19), pembelajaran IPA dapat menggunakan model kontekstual yaitu suatu konsep belajar yang digunakan untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan contoh-contoh penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun, kenyataannya sebagian besar masih ada guru melaksanakan pembelajaran tradisional, materi tidak kontekstual, disamping berpusat pada guru juga menjelaskan foto (gambar) yang ada dibuku tanpa memberikan foto (gambar) secara nyata di lingkungan sekitar siswa. Keadaan tersebut potensial menimbulkan kejenuhan, menurunkan minat, motivasi dan makna mendalam terhadap apa yang dipelajari siswa.

Belajar IPA tidak cukup dibelajarkan hanya dengan memberikan pengetahuan yang hanya bersifat informasi akan tetapi belajar IPA menuntut adanya sebuah proses dan hasil akhir ada produk yang disesuaikan dengan kehidupan nyata siswa agar lebih mudah di ingat dan menyenangkan. hal itu senada dinyatakan oleh Zahara, dkk. (2014:106) bahwa ciri IPA pada umumnya pembelajaran yang menuntut siswa untuk lebih aktif merujuk pada elemen utama IPA yaitu proses dan produk. Pembelajaran IPA juga harus menyenangkan dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran (partisipatif) secara aktif belajar bersama teman sebaya, menemukan sendiri dan hendaknya diberikan melalui menyentuh benda-benda secara nyata sehingga siswa dapat merasakan pembelajaran menjadi lebih bermakna atau memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari (Ginting dan Annisa, 2017:147), (Priyono, 2016:895) dan Munandar (2008) dalam Subamia, dkk. (2015:676). Oleh karena itu, guru juga dituntut memanfaatkan berbagai media pembelajaran agar pembelajaran dapat berlangsung optimal salah satunya adalah bahan ajar, metode dan adanya media pembelajaran.

Materi gerak tumbuhan, salah satunya gerak tropisme sebagai salah satu konsep yang wajib dipelajari relatif sulit untuk diamati secara langsung oleh siswa karena dibutuhkan ketelitian, kecermatan dan memakan waktu yang relatif lama sehingga siswa hanya menggali informasi melalui buku maupun carta (Purwendri, 2013:13). Namun contohnya banyak ditermukan di lingkungan sekitar dengan memanfaat media foto handphone (HP).

Sedangkan di SMPN 2 Pematang Karau termasuk dalam sekolah terpencil siswanya ada saja membawa handphone ke sekolah padahal pihak sekolah sudah sejak awal melarang. Keadaan itu dimanfaatkan oleh guru ke hal yang positif yaitu mengajak siswa memfoto berbagai gerak tumbuhan dan membandingkan dengan foto yang ada di buku.

Kegiatan memfoto tersebut dilakukan sendiri oleh siswa secara berkelompok, dengan memfoto sendiri berarti siswa mengamati bahkan menyentuh gerak tumbuhan secara langsung, meskipun penggunaan handphone tidak digunakan sembarangan di lingkungan sekolah kecuali ada izin guru dan orang tua.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Mengoptimalkan Pembelajaran IPA dengan Media Foto Handphone untuk Meningkatkan Minat Belajar Materi Gerak Tumbuhan pada Siswa Kelas VIII Smpn 2 Pematang Karau.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research). Adapun Langkah–langkah kerja yang dilakukan peneliti saat melakukan observasi dengan jalan merancang, melaksanakan, merefleksi tindakan. Dengan bekerja sama dengan rekan guru sebagai pengamat sedang untuk mengetahu gambaran minat belajar siswa menggunakan metode lembar observasi minat belajar IPA.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di SMPN 2 Pematang Karau Kabupaten Barito Timur. Pada Tahun Pelajaran 2017/2018. Jalan Sungai Karau desa Muara Plantau Kecamatan Pematang Karau Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 11 September 2017 dan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 18 September 2017. Setiap kali pertemuan membutuhkan waktu 70 menit dengan rincian 3 x 40 menit. Penelitian dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelajaran.

Hasil tes akhir siklus diperiksa dan diberi skor. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 dinyatakan tuntas belajar karena KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan oleh sekolah adalah 75. Sedangkan ketuntasan klasikal dapat diketahui dengan menggunakan rumus:

Ketuntasan Klasikal

=

Jumlah Siswa yang Tuntas

x 100%

Jumlah Skor Seluruhnya

Menurut Depdiknas, dalam Tofan, (2015:57) menyatakan bahwa suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya jika dalam kelas tersebut terdapat ≥ 85% telah tuntas belajarnya.

Adapun skor penilaian observasi yang menggunakan skala 0–4, seperti disajikan dalam tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2. 1 Pedoman Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

Kategori

Bobot Skor

Sangat tepat

4

Tepat

3

Cukup tepat

2

Kurang tepat

1

Tidak tepat

0

Sumber: Jihad dan Haris (2010:120).

Setelah diperoleh skor penilaian pelaksanaan pembelajaran maka dihitung untuk menentukan kualitas pelaksanaan pembelajaran menggunakan rumus:

Persentase Nilai Rata-rata (NR)

=

Jumlah Skor

x 100%

Jumlah Skor Maksimal

Tabel 2.2 Kriteria skor penilaian pelaksanaaan

pembelajaran

Nilai (%)

Kriteria

90 – 100

Sangat baik

70 – 89

Baik

50 – 69

Cukup baik

29 – 49

Kurang baik

10 – 29

Tidak baik

Sumber: Jihad dan Haris (2012 : 131)

Sedangkan untuk memperoleh gambaran tentang minat belajar diberikan lembar observasi minat belajar. Hasil lembar observasi minat belajar dianalisis secara deskriptif dengan menghitung skor lembar observasi minat belajar diadaptasi dari Anas Sudijono (2011: 81) dalam (Sulistiyono, Ferry. 2014:52) dengan rumus berikut ini:

Minat Belajar Siswa

=

Jumlah Skor

x 100%

Jumlah Skor Maksimal

Tabel 2.3. Kriteria Presentase minat belajar siswa

Jawaban (%)

Keterangan

80 – 100

Baik

60 – < 80

Cukup

50 – < 60

Kurang Baik

<50

Tidak Baik

Sumber: dimodifikasi dari Anas Sudijono (2011: 81)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara umum pelajaran yang dilakukan di SMPN 2 Pematang Karau dilakukan pembelajaran satu arah, dari 33 siswa kelas VIII hanya siswa yang duduk dibagian depan yaitu 12 siswa yang mau berinteraksi secara aktip. Dalam kondisi seperti ini mengakibatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA pada saat ulangan rata-rata nilai siswa kelas VIII adalah 65. padahal KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan adalah 75.

Setelah diujicobakan pada siswa, maka diperoleh ketuntasan belajar siswa pada materi gerak tumbuhan dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 3.1 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus 1

Siklus 1

Ketuntasan Belajar

Nilai

Tuntas

Tidak Tuntas

Tertinggi

Terendah

31

6

88

66

Dari tabel di atas, diketahui siswa yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa, dengan ketuntasan belajar adalah 88%.

Tabel 3.2 Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus 2

Siklus 2

Ketuntasan Belajar

Nilai

Tuntas

Tidak Tuntas

Tertinggi

Terendah

34

1

100

77

Siklus 2 diketahui siswa yang tidak tuntas sebanyak 4 siswa, dengan ketuntasan belajar adalah 97%. Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus 2 presentase Ketuntasan Klasikal siswa sudah dinyatakan tuntas.

Data observasi guru selama proses pembelajaran, Peneliti sebagai guru dan dibantu oleh 2 Guru sebagai observer dapat dilihat dari tabel 3.3 di bawah ini.

Tabel 3.3 Data Observasi Guru Selama Proses Pembelajaran Siklus 1 Pertemuan 1

No.

Kegiatan

Skor

1

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa

4

2

Guru menyajikan informasi kepada siswa menyimak foto pada buku materi pembelajaran gerak tumbuhan

3

3

Guru menjelaskan siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar

4

4

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mencari dan membandingkan foto di dalam buku dengan foto di lingkungan sekitar siswa dengan menggunakana handphone (HP)

2

5

Guru mengajak siswa melaporkan/mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara bergantian, yang dituangkan dalam bentuk foto.

3

Jumlah

16

Skor penilaian pelaksanaaan pembelajaran

73%

Keterangan: 1) Kurang 2)Cukup 3) Baik 4) Baik Sekali

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan pembelajaran yang dilakukan di kelas VIII dengan kriteria skor yaitu 80% berada pada rentang nilai (%70 – 89%) yang berarti bernilai baik. Pada siklus 1 hanya dilakukan satu kali pertemuan.

Tabel 3.4 Data Observasi Guru Selama Proses Pembelajaran Siklus 2

No.

Kegiatan

Skor

1

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa

4

2

Guru menyajikan informasi kepada siswa menyimak foto pada buku materi pembelajaran gerak tumbuhan

4

3

Guru menjelaskan siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar

4

4

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mencari dan membandingkan foto di dalam buku dengan foto di lingkungan sekitar siswa dengan menggunakana handphone (HP)

3

5

Guru mengajak siswa melaporkan/mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara bergantian, yang dituangkan dalam bentuk foto.

4

Jumlah

19

Skor penilaian pelaksanaaan pembelajaran

95%

Keterangan: 1) Kurang 2)Cukup 3) Baik 4) Baik Sekali

Pada Siklus 2 dalam dua kali pertemuan data observasi guru yaitu tabel 3.4 dan tabel 3.5 menunjukkan pemeningkatan dari 80% menjadi 95% yang artinya pada pertemuan berikutnya berada pada kriteria nilai sangat baik (90%-100%).

Adapun masukan dari kegiatan perbaikan dari teman sejawat pada saat mengobservasi keterlaksanaan pembelajaran digunakan untuk menilai pelaksanaan pembelajaran selama berlangsung dapat di lihat pada tabel 3.4 di bawah ini.

Tabel 3.5. Saran dari teman sejawat

Siklus

Saran-saran

S-1

· Perhatikan hasil foto siswa, jangan asal ambil foto.

· Penggunaan handphone di sekolah harus mendapatkan izin guru dan orang tua.

S-2

· Sebaiknya foto yang terbaik di pajang di dinding kelas. Sebagai bukti penghargaan kepada siswa.

Saran yang diberikan dari teman sejawat pada setiap pertemuan telah dilakukan perbaikan. Sedangkan hasil observasi minat belajar siswa oleh 2 guru sebagai observer disajikan dalam tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.6. Lembar Observasi Minat Belajar Siswa

No.

Butir Pernyataan

Skor

1

Siswa tidak berbicara sendiri ketika guru mengajar.

3

2

Siswa tidak mengantuk ketika guru mengajar.

3

3

Siswa suka belajar IPA khususnya materi gerak pada tumbuhan tidak menyimpang dari bahasan?

2

4

Siswa tidak bermain sendiri ketika guru mengajar.

2

5

Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru.

3

6

Siswa bertanya kepada guru jika tidak bisa menjawab soal.

2

7

Siswa selalu maju di depan kelas jika disuruh guru.

3

8

Siswa merasa senang ketika menggunakan media pembelajaran khsususnya foto handphone dan membandingkannya dengan yang ada pada buku.

3

9

Siswa senang materi gerak tumbuhan karena mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata.

3

10

Siswa merasa gembira ketika guru mengajak ke luar ruangan kelas untuk mengamati gerak tumbuhan secara langsung.

3

Keterangan: a) ya, bernila 3, b) kadang-kadang, bernilai 2, c) tidak bernilai 1

Ringkasan hasil observasi minat belajar siswa pada tabel 3.6 bernilai baik, karena berada pada kriteria presentase minat belajar 80 – 100% yaitu 93%. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, jika bahan pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan, bahan pelajaran yang membuat siswa tertarik akan lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat dapat menambah kegiatan belajar (Putri, 2015: 123)

4. simpulan dan saran

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa menggunakan Media Foto Handphone pada materi Gerak Tumbuhan Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pematang Karau Meningkatkan Minat Belajar diklasifikasikan baik karena berada pada kriteria presentase minat belajar 80 – 100% yaitu 93%.

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Bagi guru yang ingin melakukan pembaharuan dalam proses pembelajaran IPA salah satunya menggunakan media foto sebagai respon semakin banyaknya siswa mempunyai handpone yang difasilitasi kamera. (2) Agar penerapan media foto mendapatkan hasil yang maksimal diharapkan guru memerlukan persiapan yang matang, dengan cara foto gerak tumbuhan di ambil sesuai apa yang ada di lingkungan siswa, meskipun penggunaan handphone di sekolah harus mendapatkan izin guru dan orang tua.

5. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Audina, M., Ugiarto, M., Cahyono, B. (2017). Media Pembelajaran Kontekstual Berbasis Desktop pada Pendidikan Lingkungan Hidup di Taman Kanak-Kanak Samarinda. JURTI, Vol.1 (1): 18-26

Farchanah, Y. (2010). Upaya Meningkatkan Minat Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Yogyakarta dalam Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan LKS (Lembar Kerja Siswa) Kreatif. http://eprints.uny.ac.id/2308/1/BAGAN _SKRIPSI.pdf, diakses 13 Juli 2017.

Ginting. K. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS SISWA Kelas V SD Negeri 060885 Medan. Jurnal Tematik hal: 1-22

Jihad, A. Haris. A. (2012). Evaluasi Pembelajaran Yogyakarta: Multi Pressindo.

Priyono, Sabar. (2016). Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kontekstual terhadap Hasil Belajar IPA Siswa KELAS IV SD Negeri Karangjati. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNY Edisi 9(5):894-903

Putri, D T N dan Isnani, G. (2015). Pengaruh Minat Dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Pengantar Administrasi Perkantoran. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Manajemen. Vol. 1(2): 118-124.

Purwendri, R. (2013). Penggunaan Media Pembelajaran dengan Program Berbasis Lectora untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar IPA Konsep Gerak Tropisme pada Siswa SMP Kelas VIII. Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, No.2 XVII. Hal. 12-18

Sabamia, I.D. P, SriWahyuni , I.G.A.N, Widiasih, N.N. (2015). Pengembangan Perangkat Praktikum Berorientasi Lingkungan Penunjang Pembelajaran IPA SMP sesuai Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 4(2):675-685

Sulistiyono, Ferry. (2014). Peningkatan Minat Belajar Siswa terhadap Pembelajaran Tematik Kelas I melalui Metode Story Telling di SDN Gembongan Sentolo Kulon Progo . Skripsi. FMIPA UNY. Yogyakarta. Dipublikasikan.

Zahara,N., Djufri, dan Muhibbuddin. (2014). Optimalisasi pembelajaran dengan E-Book dan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA pada Materi Dunia Tumbuhan. Jurnal Biotik, Vol.2(2):77-137

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali