Amir

Silahkan kunjungi http://amirdikdas.blogspot.co.id/ ...

Selengkapnya
BAHAN AJAR PENGAYAAN IPA SMP/MTS BERBASIS RISET PERILAKU-MAKAN MONYET EKOR-PANJANG (Macaca fascicularis, Raffles) DI HUTAN KARET

BAHAN AJAR PENGAYAAN IPA SMP/MTS BERBASIS RISET PERILAKU-MAKAN MONYET EKOR-PANJANG (Macaca fascicularis, Raffles) DI HUTAN KARET

PENDAHULUAN

Bahan ajar pengayaan diberikan kepada siswa yang tuntas menguasai materi pelajaran dan melampaui kriteria ketuntasan minimum, sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Buku pengayaan diperlukan untuk mengubah perilaku siswa terhadap lingkungan dan diri sendiri. Penyusunannya dapat disesuaikan dengan keragaman potensi daerah dan lingkungan (Permendikbud, 2013).

Hutan karet adalah salah satu lingkungan atau ekosistem yang dekat dengan sekolah di Kabupaten Balangan. Di ekosistem ini ditemukan berbagai spesies primata. Spesies primata yang mudah ditemukan adalah monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis).

Monyet ekor-panjang memanfaatkan hutan karet untuk berlindung, beristirahat, berkembang biak, dan tentu saja mencari makanan. Menurut Djuwantoko (2000), monyet ekor-panjang adalah omnivora. Selain buah-buahan, daun dan pucuk daun, monyet ekor-panjang juga memakan ikan, serangga, dan kepiting. Apabila habitatnya terganggu, kelompok monyet ini akan mendatangi permukiman penduduk untuk mencuri ubi-ubian, pisang, bahkan nasi. Secara alami monyet ekor-panjang tidak meresahkan masyarakat, terutama bila hidup pada habitat asli dan relatif tidak berdampingan dengan kehidupan masyarakat; mereka berusaha menghindar jika kontak langsung dengan manusia (Djuwantoko et al., 2008).

Perilaku-makan monyet ekor-panjang di hutan karet dapat diperkenalkan sebagai bahan ajar pengayaan IPA materi interaksi antar makhluk hidup dan lingkungan pada siswa kelas VII SMP/MTs semester II. Upaya untuk membelajarkan materi secara kontekstual ini diperlukan agar siswa lebih mudah mempelajari materi. Bahan ajar pengayaan pengetahuan berbasis kontekstual dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan sekaligus menambah pengetahuan siswa (Rofiah et al., 2015). Masalahnya kemudian adalah adakah atau bagaimanakah bahan ajar tepat yang dapat memandu siswa memahami konsep interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya terkait topik perilaku-makan monyet ekor-panjang di hutan karet.

Bahan ajar pengayaan berbasis riset perilaku-makan monyet ekor-panjang berbentuk modul dianggap baik untuk pembelajaran. Modul disusun sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa serta dapat dipelajari mandiri tanpa seorang fasilitator. Modul pun dapat digunakan sesuai dengan kecepatan belajar siswa. Menurut Depdiknas (2008), modul yang baik memiliki lima karakter, yaitu membelajarkan diri sendiri (self instruction), membelajarkan secara tuntas (self contained), berdiri sendiri (stand alone), menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (adaptive), dan bersahabat dengan pemakainya (user friendly). Pendek kata, modul dapat diterapkan dalam kondisi pembelajaran lebih terencana dengan baik, mandiri, tuntas, dan hasil jelas. Modul pun dapat melengkapi bahan ajar yang telah ada.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan adalah penelitian pengembangan. Materinya dikembangkan berdasarkan pada model pengembangan berbasis riset perilaku-makan monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis, Raffles) di hutan karet. Monyet diteliti atau diamati dengan metode focal animal sampling, mengamati perilaku satu individu yang mewakili individu lain yang terlibat dalam interaksi aktivitas makan. Untuk melengkapi data, pustaka pun ditelusuri langsung ke perpustakaan atau melalui daring (online). Data yang diperoleh disusun dalam bentuk bahan ajar (modul) dan kemudian divalidasi atau diuji-coba secara perorangan dan tidak sampai diuji-coba lapangan dalam skala kecil atau diuji-coba lapangan dalam skala besar.

Subjek penelitian adalah validator ahli yang terdiri atas 3 dosen Universitas Lambung Mangkurat, 2 guru mitra (1 dari SMPN 1 Juai dan 1 dari SMPS Ikhwanul Muslimin), serta 4 siswa SMPS Ikhwanul Muslimin yang layak dilakukan pengayaan (telah mencapai ketuntasan ≥ 70; KKM IPA SMPS Ikhwanul Muslimin). Penilaian bahan ajar mencakup validitas isi, validitas penyajian, dan validitas bahasa. Validasi bahan ajar oleh ahli dilakukan dua kali ulangan, sehingga diperoleh bahan ajar yang relatif baik, sebelum divalidasi oleh guru mitra dan diuji keterbacaannya oleh siswa. Data dianalisis sehingga diperoleh rerata secara kuantitatif yang selanjutnya diberi kriteria untuk memudahkan perlakuan selanjutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran pada bahan ajar ini berorientasi pada lingkungan yang lokasinya dekat dengan sekolah. Kondisi ini memfasilitasi siswa untuk mengamati langsung aspek yang dekat dengan kehidupannya atau lebih kontekstual. Efek yang diharapkan dari pengalaman langsung ini adalah bahwa siswa mampu mengembangkan kompetensi dalam menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Melalui berbagai kegiatan interaktif antara subyek belajar dengan objek belajarnya, siswa terdorong mencari informasi lebih jauh tentang perilaku-makan primata selain monyet ekor-panjang. Hal ini tentu memberi pengalaman berbeda dengan pembelajaran sebelumnya.

Pembelajaran kontekstual akan membuat siswa mudah memahami materi yang dipelajari. Menurut Suastra (2005) pengembangan bahan ajar sains tidak dapat dilepaskan dari peranan lingkungan terdekat, baik lingkungan fisik (alam) maupun lingkungan sosial budaya. Latar belakang budaya yang dimiliki siswa dan dibawa ke dalam kelas selama proses pembelajaran memainkan peran yang sangat penting pada proses penguasaaan materi pelajaran. Menurut Haraida (2010), pembelajaran berbasis budaya (kearifan lokal) membuat siswa lebih mandiri. Selain itu, siswa berpeluang mengeksplorasi kemampuannya sendiri, baik pengetahuan awal maupun keyakinan terhadap konsep materi pelajaran. Menurut Hidayah (2013), bahan ajar yang dikembangkan lebih bermakna jika siswa memahami konsep-konsep yang dipelajarinya melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang dipahami. Namun, bahan ajar yang dikembangkan harus juga dilengkapi kegiatan observasi lapangan. Tujuannya memberi kesempatan pada siswa agar aktif bekerja, baik mandiri maupun berkelompok untuk melakukan pengamatan, mengumpulkan data, menalar, mengomunikasikan (saintifik). Kemutakhiran materi ditunjukkan oleh kesesuaian materi tersebut dengan perkembangan ilmu. Hutan karet digunakan sebagai sumber belajar terkait dengan keberadaan primata serta keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan. Hal ini merupakan potensi sumber belajar.

1. Validasi Ahli

Pada tahap 1 rerata hasil validasi oleh tiga validator cukup valid. Rerata ini meningkat menjadi valid pada tahap 2 atau setelah direvisi (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil validasi ahli bahan ajar oleh tiga validator

Aspek penilaian

Tahap 1

Tahap 2

Rerata (%)

Kriteria

Rerata (%)

Kriteria

Validitas isi

82,93

Cukup valid, dapat digunakan dengan revisi kecil

91,27

Valid, dapat digunakan tanpa revisi

Validitas penyajian

80,35

Cukup valid, dapat digunakan dengan revisi kecil

92,26

Valid, dapat digunakan tanpa revisi

Validitas bahasa

83,33

Cukup valid, dapat digunakan dengan revisi kecil

90,38

Valid, dapat digunakan tanpa revisi

Rerata (%)

82,21

Cukup valid, dapat digunakan dengan revisi kecil

91,30

Valid, dapat digunakan tanpa revisi

Skor rendah pada validasi tahap 1 disebabkan oleh ketidak-sesuain soal dengan indikator. Menurut Mulyani (2007), soal harus sesuai dengan indikator, pilihan jawabannya harus homogen dan logis, serta setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Walaupun pada validasi tahap 2 berkategori valid dan dapat digunakan tanpa revisi, bahan ajar ini. Revisi pun dilakukan dengan mempertimbangkan hasil validasi serta saran dari validator (Tabel 2) yang bertujuan untuk penyempurnaan komprehensif terhadap produk. Depdiknas (2008) menjelaskan revisi atau perbaikan merupakan proses penyempurnaan produk setelah memperoleh masukan dari kegiatan validasi.

Tabel 2. Saran dari validator ahli

Validator

Saran–saran

V-1

· Pada bahan ajar perbaiki kesalahan pengetikan, tanda titik, daftar isi, font size, spasi.

· Pada gambar, harus ada uraian tentang gambar terlebih dahulu.

· Sumber foto gunakan dokumen pribadi (tanpa tahun)

V-2

· Pada bahan ajar perbaiki tampilan sampul seperti nama ilmiah, nama dosen, dan tambahkan kata suplemen.

· Daftar isi ditambahkan kunci jawaban.

· Hindari tulisan warna merah dan halaman kosong.

· Pada gambar beri tanda lingkaran dan tidak mengganggu spasi.

V-3

· Gambar di perjelas agar terlihat makanannya.

· Penggunaan kalimat tanya harus di akhir tanda tanya.

· Perbaiki penggunaan di– dan ke–

· Naskah kurang memotivasi siswa untuk melakukan pengamatan.

Saran menarik dari validator 3 yaitu naskah kurang memotivasi siswa untuk melakukan pengamatan. Berdasarkan pada saran itu, revisi dilakukan. Pada gambar, tidak terlalu banyak penjelasan, sehingga tampilannya menarik dan dapat mengurangi kejenuhan siswa membaca bahan ajar. Siswa diminta langsung terjun ke lapangan, mengamati secara langsung, dan mengambil foto atau video perilaku-makan monyet ekor-panjang dengan cara mereka sendiri. Selanjutnya, bahan ajar ini dilengkapi dengan evaluasi berupa latihan-latihan soal yang sedapat mungkin berkaitan dengan hasil video siswa. Menurut Akbar (2013) pembelajaran yang baik dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif.

Terkait dengan kejelasan gambar (supaya terlihat makanan yang dimakan monyet), revisi sementara ini belum bisa dilakukan. Pengamatan dilakukan dengan jarak jauh dengan lensa DSLR Canon 60D 70-300 mm, sehingga kualitas rekaman memang tidak baik. Pada awalnya, sebagian monyet ekor-panjang memang terlihat jinak. Namun, ketika pengamat mengarahkan kamera ke monyet ekor-panjang dan monyet melihatnya, monyet ekor-panjang dengan cepat menghindar. Menurut warga setempat, hal itu di duga karena monyet ekor-panjang terhabituasi (terbiasa) dengan pemburuan oleh masyarakat menggunakan senapan angin. Pemburuan memang disengaja oleh masyarakat untuk menekan populasi, karena monyet dianggap sebagai hama.

2. Validasi guru mitra

Guru mitra sebagai pengguna memberi nilai 96,88% (Tabel 3) untuk bahan ajar yang dikembangkan. Saran dari guru mitra yang menarik untuk dibahas adalah penggunaan bahan ajar ini yang lebih baik untuk pembelajaran di lapangan (kebun binatang) agar siswa tidak sulit melakukan pengamatan.

Tabel 3. Hasil validasi dari guru mitra

Aspek penilaian

Rata–rata (%)

Kriteria

Validitas Isi

97,03

Valid, dapat digunakan tanpa revisi

Validitas Penyajian

95,54

Valid, dapat digunakan tanpa revisi.

Bahasa

98,08

Valid, dapat digunakan tanpa revisi.

Rata–rata

96,88

Valid, dapat digunakan tanpa revisi.

Tabel 4. Saran dari Guru Mitra

Validator

Saran–saran

GM-1

Bahan ajar ini lebih baik digunakan untuk pembelajaran di lapangan (kebun binatang), sehingga siswa tidak begitu kesulitan melakukan pengamatan.

GM-2

Cuplikan ayat Al Quran perlu dimasukkan ke dalam bahan ajar.

Saran tersebut baik, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Kebun binatang tidak ada di tempat terdekat dari sekolah, bahkan ibukota kabupaten. Oleh sebab itu, pembelajaran bahan ajar berbasis riset dengan latar belakang pembelajaran konstekstual, dan berbasis potensi lokal ini untuk sementara dianggap cukup. Menurut Suratsih (2010), lingkungan alam sekitar merupakan laboratorium yang mempunyai peranan penting karena adanya gejala-gejala alam yang dapat memunculkan persoalan-persoalan sains. Untuk mendapatkan obyek biologi, alam dengan segenap fenomenanya telah menyediakan informasi yang dapat digunakan dalam kehidupan manusia. Permasalahannya di sini, mampukah kita menggali itu.

Saran lainnya adalah cuplikan ayat Al-quran yang dimasukkan ke dalam bahan ajar untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya sesuai dengan kompetensi inti pada kurikulum 2013. Ayat al-quran dalam bahan ajar memberikan kontribusi dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk mempelajari dan mempraktikan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-quran (Nurtantiin, 2009). Satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa bila hal itu dilakukan, bahan ajar hanya bisa digunakan oleh sekolah berbasis muslim dalam hal ini Madrasah Tsanawiah (MTs). Bila digunakan untuk sekolah umum umum atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), hal terkait dengan ayat dan Hadist dibuatkan ke lembar terpisah.

3. Keterbacaan oleh siswa

Rerata hasil keterbacaan oleh siswa adalah 85,42% atau sangat setuju (Tabel 5). Walaupun tidak perlu revisi, komentar dari siswa patut diperhatikan.

Tabel 5. Hasil keterbacaan oleh siswa

Aspek penilaian

Hasil (%)

Kriteria

Validitas tampilan

86,46

Sangat setuju (tidak perlu revisi)

Validitas penyajian materi

87,50

Sangat setuju (tidak perlu revisi)

Validitas manfaat

82,29

Sangat setuju (tidak perlu revisi)

Rerata

85,42

Sangat setuju (tidak perlu revisi)

Komentar siswa tentang perbesaran gambar monyet ekor-panjang telah dilakukan dan dibuat supaya menarik serta disusun dengan kalimat sesuai dengan keadaan sebenarnya di alam. Menurut Dewi (2010), buku teks pelajaran berstandar nasional menarik karena gambar atau ilustrasinya memperjelas isi atau materi, huruf atau bacaan jelas dan terbaca, serta bahasa mudah dipahami siswa. Darmayanti et al. (2014) berpendapat buku siswa yang dikembangkan mampu membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajarnya dalam proses pembelajaran karena contoh-contoh, ilustrasi, dan pemilihan warna yang tepat serta pemilihan bahasa yang sederhana mampu menarik perhatian siswa untuk membacanya serta mampu mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar.

simpulan dan saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan tergolong valid, berdasarkan (1) Hasil validasi ahli yaitu 91,30% dan guru mitra yaitu 96,88% menunjukkan bahan ajar dalam kategori valid karena berada pada interval 85% – 100% (2) Hasil uji keterbacaan siswa yaitu 85,42% menunjukkan bahan ajar dapat digunakan tanpa revisi karena berada pada interval 85% – 100%.

Saran yang dapat dituliskan pada penelitian ini adalah penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap validasi perorangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada tahap uji kelompok kecil dan uji lapangan untuk menghasilkan bahan ajar yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya.

Darmayanti, V., Slamet H., dan Sulifah A.H. 2014. Pengembangan Buku Siswa Berbasis Inkuiri pada Pokok Bahasan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Maesan Bondowoso. Pancaran. 3 (3): 93-102.

Dewi, PPTK. 2010. Tingkat Keterbacaan Buku Teks Bahasa Indonesia untuk Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Blahbatuh. http://ejournal. undiksha.ac.id/index.php/JJPBS/article/viewFile/502/417, di akses 27 Januari 2016

Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas. 2008. Penulisan Modul. Jakarta: Depdiknas.

Djuwantoko. 2000. Pendekatan Ekosistem dalam Konservasi Primata. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada:Yogyakarta.

Djuwantoko, Utami, R.N., dan Wiyono. 2008. Perilaku Agresif Monyet, Macaca fascicularis (Raffles, 1821) terhadap Wisatawan di Hutan Wisata Alam Kaliurang, Yogyakarta. Biodiversitas. 9(4): 301-305.

Haraida. 2010. Pemanfaatan Budaya dan Teknologi Lokal dalam Rangka Pengembangan Sains. Jurnal Pendidik Matematika dan IPA 1(1):55-54

Hidayah, Y. 2013. Beberapa Tipe Pendekatan dalam Pembelajaran Biologi. LENTERA Jurnal Ilmiah Kependidikan 8 (1): 20-29

Mulyani, E. 2007. Kaidah Penulisan Soal. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ pendidikan/Dr.%20Endang%20Mulyani,%20M.Si./EVALUASI%20-%20 Kaidah%20Penulisan %20Soal.pdf, di akses 24 April 2016.

Nurtantiin. 2009. Upaya Penyusunan Bahan Ajar Mata Pelajaran Al-quran dan Hadist di MAN 2 Ponorogo Tahun Ajaran 2008/2009. http://digilib.stainponorogo.ac.id /files/disk1 /6/stainpress-11111-nurtantiin-257-2-bab-v.pdf , di akses 27 Januari 2016.

Permendikbud. 2013. Lampiran II Nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta: Kemendikbud.

Rofiah, A., Rustana, C. E, Nasbey, H. 2015. Pengembangan Buku Pengayaan Pengetahuan Berbasis Kontekstual pada Materi Optik. Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF 2015 2 (4): 1-4.

Suastra, I.W. 2005. Merekonstruksi Sains Asli (Indi-genoScience) dalam Upaya Mengembangkan Pendidik Sains Berbasis Budaya Lokal di Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja (1).

Suhardi. 2011. Diktat Persoalan Sumber Belajar Biologi. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suratsih. 2010. Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal dalam Kerangka Implementasi KTSP SMA di Yogyakarta. Penelitian Unggulan Uny (Multitahun) Tahun Anggaran 2010 FMIPA: Universitas Negeri Yogyakarta.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali